Khilaf

Khilaf

Senin, 01 Mei 2017

Menanti Wajah Baru Orang Nomor Satu Kampus Oranye




              Setelah menjalani penundaan pada bulan Maret dan April, pemilihan dekan FISIP pun akhirnya kembali dilaksanakan. Hal ini ditandai dengan ditetapkannya jadwal pemilihan pada Rabu pekan ini (3/5). Nantinya tiga calon dekan akan bersaing merebut suara rektor dan 13 anggota senat fakultas untuk menduduki bangku dekanat FISIP selama 4-5 tahun mendatang, yaitu Asmui, Guru Besar Ilmu Administrasi Publik; Mukhtar Sarman, Doktor Bidang Ilmu Administrasi Publik; dan Budy Setiady, Doktor dan Pakar Sosiologi Ilmu Pemerintahan.

          Sayangnya, euphoria pemilihan dekan FISIP Unlam ini tidak 100% dirasakan oleh mahasiswa FISIP. Hal ini disebabkan tidak semua mahasiswa FISIP mengetahui adanya pemilihan dekan baru dan penyelenggaraannya. Hasil yang miris pun diperoleh dari survey sederhana dan acak 134 responden yang semuanya adalah mahasiswa FISIP. 1 dari 4 responden menyatakan tidak mengetahui sama sekali akan adanya pemilihan ini. Ditambah dengan  hasil survey lainnya yang menyatakan  3 dari 4 responden tidak mengetahui siapa saja yang maju menjadi calon dekan FISIP yang baru. Hasil survey tersebut cukup mengejutkan mengingat mahasiswa juga tercantum sebagai bagian dari civitas akademika. Fenomena ini sangat miris mengingat banyak sekali mahasiswa yang notabenenya adalah mahasiswa ilmu sosial dan ilmu politik, mereka sama sekali tidak mengetahui situasi politik yang terjadi di fakultasnya maupun kronologis dan profil calon dekan mereka sendiri.

              Padahal banyak lobi-lobi politik yang terjadi sekitar dewan senat fakultas terkait pemilihan calon dekan mendatang. Riuh desas-desus pun mungkin hanya dirasakan oleh para dosen dan sebagian mahasiswa yang sekedar mengetahui. Bahkan, pemilihan sempat ditunda dua kali dikarenakan permintaan penundaan dari rektor. Entah karena kesibukannya sebagai rektor maupun kesibukan personalnya, yang akhirnya diselenggarakan pemilihan awal untuk penjaringan dan penyaringan calon dengan hasil 3 orang yang terpilih sebagai kandidat calon dekan baru.

Pemilihan Dekan : Banyak yang Tahu tapi Banyak yang Tak Mengetahui

Menurut hasil survey yang diadakan Tim INTR-O (28/4) pada 134 responden yang semuanya masih berstatus sebagai mahasiswa aktif FISIP Unlam, ditemukan bahwa 22,9% menyatakan tidak mengetahui sama sekali akan adanya pemilihan tersebut dan 74,6% tidak mengetahui siapa calon dekan FISIP yang baru.  Fenomena ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Muhammad Riyadh Al Khair, aktivis sekaligus ketua DPM FISIP Unlam periode 2017-2018. Ia mengungkapkan bahwa pemilihan dekan baru kali ini seharusnya menjadi sebuah momentum baru bagi para mahasiswa untuk ikut dalam gempita politik serta mengawal hasil voting pemilihan kedepannya, disamping mahasiswa tidak diperkenankan turut andil dalam pemilihan tersebut. Sangat disayangkan apabila momentum pemilihan dekan ini tidak diketahui oleh mahasiswa, secara kan mahasiswa juga civitas akademika dan kita sekarang berada di era keterbukaan, jelas Riyadh

              Apa yang diungkapkan Riyadh dan hasil survey oleh Tim INTR-O pun mengundang sebuah tanda tanya besar. Apakah memang pemilihan dekan ini terkesan sangat ditutup-tutupi ataukah memang mahasiswa FISIP sendiri yang memiliki tingkat apatis yang tinggi? Saladin Ghalib, dekan FISIP saat ini pun buka suara. tidak ditutupi kok, mahasiswa saja yang malas ke kampus, pungkasnya saat diwawancarai di tengah kesibukannya di kantor dekan.

              Ungkapan kontras diperoleh dari wawancara beberapa Ketua Program Studi (KPS) di FISIP Unlam. KPS dalam statuta universitas dinyatakan sebagai anggota senat yang juga memiliki hak suara dalam pemilihan tersebut. Salah satunya yaitu Nur Iman, selaku KPS Administrasi Publik, ia mengatakan bahwa tertutupnya pemilihan dekan fakultas memang karena aturan yang berlaku di kampus dan statuta universitas yang valid. memang desain atau tata cara pemilihanya juga sudah diatur seperti itu, dari univeristas atau peraturan rektor, kata Nur Iman.

              Hal tersebut juga seirama diungkapkan oleh Sri Astuty, KPS Ilmu Komunikasi. Ia mengatakan bahwa pemilihan dekan memang tertutup karena memang sudah diatur dalam statuta universitas. Ia menambahkan bahwa anggota senat berfungsi sebagai perwakilan suara dari civitas akademika dalam mengatur dan memutuskan suatu regulasi yang ada di fakultasnya, termasuk pemilihan calon dekan baru. Ya kan memang tertutup karena sudah ada di statuta universitas, jadi senat sebagai perwakilan fakultas akan memilih dekan yang baru nanti, tambahnya.

Penundaan Dua Kali, Rektor : Karena Memang Saya yang Minta

              Entah memang mahasiswa FISIP yang apatis atau memang pemilihan dekan yang sengaja tidak terbuka informasinya, menjadikan banyak sekali hal-hal unik dan menarik yang terjadi pada pemilihan dekan tahun ini. Pertama, yaitu terjadinya penundaan sebanyak 2 kali  (Maret dan April) karena ketidakhadiran Sutarto Hadi selaku rektor dalam pemilihan dekan yang pertama. Semua senat yang berhasil tim INTR-O wawancarai menyatakan penundaan ini diakibatkan oleh kesibukan rektor. Pernyataan ini pun diperkuat oleh Saladin Ghalib di sela wawancara. ditunda kemaren itu ya karena rektor sibuk, jawab Saladin.

              Jawaban yang sama juga diperoleh dari Mariyono, KPS Administrasi Bisnis yang menjabat sebagai sekretaris panitia pelaksana pemilihan dekan FISIP yang baru. Ia mengungkapkan bahwa penundaan rapat senat untuk pemilihan dekan ditunda hingga dua kali sampai pada Rabu (3/5) mendatang dan itu masih ada kemungkinan penundaan lagi oleh rektor. Memang karena Pak Rektor ada kesibukan makanya jadi diundur hingga 2 kali, dan itu Pak Rektor yang minta penundaan tersebut sampai Rabu depan, tambah Maryono.

Ditemui dalam wawancara singkat  bersama Sutarto Hadi di sela-sela kunjungannya ke FKIP, ia membenarkan bahwa penundaan tersebut diakibatkan padatnya jadwal kegiatan rektor. Ia juga mengamini bahwa ialah yang meminta rapat pemilihan dekan FISIP yang baru ditunda sampai dua kali karena ada beberapa pertemuan di luar daerah yang harus ia hadiri. Iya memang benar, pertama kemaren itu saya harus ke Kutai Kartanegara karena ada kerjasama dengan bupati Kutai, jadi saya bilang mohon diundur dulu, jawab Sutarto dengan santai.

Andil 35 Persen Hak Suara Pak Rektor

              Penundaan ini menunjukkan bahwa rektor memiliki andil yang sangat besar dalam pemilihan dekan di FISIP. Mengingat, pemilihan dekan sendiri tidak dapat dilangsungkan tanpa kehadiran rektor. Mariyono menuturkan bahwa andil suara rektor mencapai 35 persen atau 7 dari 20 jumlah suara pada pemilihan dekan nantinya. Ia menambahkan bahwa karena jumlah hak suara rektor tersebut lah kehadiran rektor menjadi prioritas utama pada rapat senat Rabu mendatang. Karena hak suara yang dimiliki Pak Rektor itu 35 persen dari total suara senat kampus nantinya ujarnya.

Tidak bisa dipungkiri memang rektor memiliki andil yang sangat besar dalam pemilihan dekan. Salah satu andil rektor ini dapat sangat berpengaruh dalam menentukan kemenangan salah satu calon. Ini karena rektor memiliki 35% suara atau 7 dari 20 suara. 13 suara sisanya dipegang oleh 13 anggota senat yang diusung dari masing-masing program studi. Disinggung mengenai besarnya suara yang dimiliki rektor, Sutarto Hadi menerangkan bahwa hal tersebut sudah termaktub dalam statuta universitas. ini sesuai dengan SK Senat dan SK Rektor, jawabnya.

              Ungkapan yang kontras dan satir pun dilontarkannya oleh Saladin selaku Dekan FISIP dalam menanggapi hak suara yang diperoleh rektor dalam pemilihan dekan fakultas. Ia mengungkapkan alasan dibalik banyaknya suara yang dipegang oleh rektor adalah faktor hak prerogratif (istimewa) dan wewenang yang dimiliki oleh rektor dalam meregulasi dan memutuskan SK dekan dan rektor dalam bentuk statuta universitas. Ya itu karena rektor mau, kata Saladin sambil tertawa.

Lobi-Lobi Politik dan Proses Pemilihan Dekan

              Mengingat besarnya suara yang dimiliki oleh rektor, lobi-lobi politik pun sering diterima. Menurut rektor, ketiga calon dekan memang sudah pernah datang menghadap dirinya. Sutarto menambahkan bahwa ketiga calon pun sudah mempresentasikan program-program kerjanya jika nanti terpilih. Ia menerangkan bahwa ia akan memilih calon yang memang representatif dan sesuai dengan visi dan misi fakultas yang selaras dengan visi misi universitas. Saya juga akan mempertimbangkan dengan seksama calon yang akan saya pilih, mana program mereka yang sesuai dan applicable untuk fakultas dan universitas beberapa tahun mendatang, ujar Sutarto.

Selain rektor, anggota senat lainnya pun mengaku menerima lobi politik dari ketiga calon dekan, Namun, mereka tidak mau mengungkapkan bentuk lobi politik yang mereka terima.  Pada tahap penyaringan, Saladin mengungkapkan jumlah voting rapat senat yang menghasilkan : Budy Setiady mendapatkan 7 suara, Asmui 4 suara dan Mukhtar Sarman 1 suara, 1 suara sisanya bersifat abstain. Namun suara yang didapat calon dekan dalam penyaringan tidak memiliki arti apapun. Ketiga calon dekan tetap memiliki kesempatan untuk maju ditahap ketiga atau tahap pemilihan.



Keterlibatan Mahasiswa Dalam Pemilihan Dekan

              Nur Iman selaku KPS Administrasi Publik sekaligus anggota senat fakultas mengatakan akan menerima masukan dari berbagai pihak terkait penyelenggaraan pemilihan dekan FISIP mendatang, salah satunya keterbukaan informasi dan audiensi calon dekan kepada para mahasiswa. Nanti ke depannya akan kita usahakan terbukanya informasi mengenai calon dekan kepada para mahasiswa, sekiranya kada tekajut jar urang Banjar tuh. Tapi, tetap saja mahasiswa tidak memiliki andil dalam proses pemilihan dekan nanti, tuturnya.

Kenyataan ini disayangkan oleh Riyadh, ketua DPM FISIP UNLAM. Ia berpendapat bahwa setidaknya ada keterlibatan mahasiswa dalam pemilihan dekan fakultas walaupun tidak memiliki hak suara, karena seyogyanya mahasiswa juga termasuk dalam civitas akademika fakultas. Mahasiswa berharap dapat dilibatkan dalam pemilihan dekan walaupun tidak berbentuk langsung hak suara, tetapi melalui audiensi atau komunikasi dengan calon yang diusung, usul Riyadh.

 Harapan Riyadh ini senada dengan survey yang dilakukan Tim INTR-O kepada beberapa mahasiswa. Pada survey yang juga dilakukan kepada responden yang sama,  kami mendapati 9 dari 10 mahasiswa atau 88,6% menyatakan bahwa mahasiswa harus punya andil dalam pemilihan dekan fakultas mereka. Tetapi, nada satir dilantunkan oleh Sutarto menjawab opini mahasiswa tersebut. Menurutnya, mahasiswa tidak perlu repot-repot mengurusi dan ikut berpartisipasi dalam pemilihan dekan fakultas mereka. mahasiswa itu tugasnya belajar saja, gak perlu repot-repot mengurusi dekan, tutupnya. (Tim Redaksi)


Senin, 20 Februari 2017

NAPAK TILAS PAHLAWAN AMPERA


              Sabtu (18/02) kemarin telah diadakan kegiatan Napak Tilas untuk memperingati “Hari Gugurnya Pahlawan Ampera Hasanuddin HM dan Perjuangan Eksponen’66 yang ke-51”. Kegiatan Napak Tilas ini dimulai di halaman bank mandiri, Jl. Lambung Mangkurat, seberang kantor PLN. Massa kemudian bergerak santai mengitari Jalan Hasan Basry, menuju Pasar Sudimampir. Di Pasar Sudimampir, tepatnya didepan Toko Roti Min Seng, massa kemudian melakukan aksi tabur bunga, untuk memperingati tempat gugurnya pahlawan ampere.

            Napak Tilas ini merupakan acara puncak dari rankaian acara yang ditujukan untuk memperingati “Gugurnya Pahlawan Ampera Hasanuddin HM dan Perjuangan Eksponen’66 yang ke-51”. Rangkaian acara penringatannya ini sendiri dimulai pada Kamis (16/02) dengan kegiatan bakti sosial, kemudian dilanjutkan pada hari Jum’at malam (17/02) dengan acara haulan, baru acara puncaknya, yaitu napak tilas yang dilakukan pada hari sabtu kemarin. Kegiatan-kegiatan peringatan ini bertujuan untuk merefleksikan semangat juang pahlawan indonesia dalam menjaga persatuan keutuhan bangsa.

            Saya secara pribadi, sangat mengapresiasi karena menurut saya kegiatan-kegiatan seperti ini sangat penting  dan mengandung nilai-nilai luhur dan sejarah, kata Rizki Eri Munadi, selaku ketua pelaksana peringatan “Hari Gugurnya Pahlawan Ampera Hasanuddin HM dan Perjuangan Eksponen’66 yang ke-51”. Ia juga mengungkapkan bahwa massa pada peringatan ini jauh lebih banyak daripada tahun lalu. Menurutnya, ini sangat bagus, mengingta Universitas Lambung Mangkurat sendiri adalah kampus perjuangan, dimana universitas ini melahirkan banyak sekali pahlawan, bukan hanya sekedar cendekiawan saja. Kepada Tim INTR-O, ia juga mengungkapkan harapannya agar kegiatan ini bisa terus berlangsung, dan mahasiswa peduli dan mau turut serta dalam kegiatan ini semakin banyak.

            Kegiatan napak tilas ini pun disambut positef oleh mahasiswa yang mengikutinya, “Acara napak tilas ini adalah sebuah momentum yang mana seharusnya kita merefleksikan semangat juang para eksponen’66 dulu dan mengimplementasikan semangat itu  pada masa-masa sekarang dengan cara berprestasi dan melakukan pengabdian-pengabdian yang berguna bagi masyarakat” ujar Rizki, salah satu mahasiswa FKIP Unlam.

Jumat, 17 Februari 2017

Peringatan Pahlawan 66 Miris Partisipan Civitas


Dalam rangka memperingati 51 tahun gugurnya pahlawan Ampera, Hasanuddin HM, IKA UNLAM Banjarmasin  mengadakan serangkaian acara peringatan yang dilakukan selama tiga hari. Rangkaian acara tersebut diawali pada hari pertama (16/02), yaitu dengan upacara pembukaan peringatan gugurnya Hasanuddin HM dan dilanjutkan dengan bakti sosial berupa kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar UNLAM dan donor darah. Kemudian dilanjutkan pada hari kedua (18/02) dengan cara Haulan Hasanuddin HM yang bertempat di Masjid Kampus Baitul Hikmah UNLAM. Pada akhir sesi rangkaian akan ditutup dengan Napak Tilas Peristiwa Ampera ’66 dan ziarah makam yang akan dilakukan pada Sabtu (19/02).

Civitas Akademika UNLAM dan masyarakat  umum pun dihimbau untuk turut berpartisipasi dalam rangkaian acara tersebut. Tapi, pada  upacara peringatan yang dilakukan di Open Space UNLAM hanya terlihat segelintir masa yang didominasi oleh mahasiswa Fakultas Hukum dan mahasiswa PGSD FKIP, serta sebagian kecil mahasiswa sebagai perwakilan tiap-tiap fakultas. Hal tersebut ditanggap miris oleh Khairul Umam selaku Ketua BEM yang baru saja dikukuhkan. Ia menyayangkan bahwa partisipan yang berhadir tidak sesuai dengan harapan. Ia juga menanyakan partisipasi fakultas dalam menghormati peringatan pahlawan Ampera ‘66 yang juga berstatus sebagai mahasiswa UNLAM saat itu.

“Seharusnya acara ini diperuntukan seluruh mahasiswa dan organisasi-organisasi untuk berhadir, mungkin karena kesalahan teknis ada kurang tahu dengan acara ini. Rektorat sendiri memberitahukan bahwa hari ini (18/02) diliburakan, memang diliburkan tapi entah kenapa masih ada yang tetap kuliah mungkin surat pemberitahuan belum sampai ketangan dosen,” jelas Umam.

Umam sendiri berharap untuk acara selanjutanya partisipan baik civitas akademik maupun masyarakat umum lebih banyak lagi. “harapannya untuk acara-acara selanjutnya khususnya napak tilas bisa dihadir oleh seluruh mahasiswa, ORMAWA, UKM  fakultas dan juga masyarakat umum karena Hasanuddin H. Majedi inikan bukan pahlawan UNLAM saja tetapi pahlawan AMPERA” tutup ketua BEM yang baru saja dilantik ini. (FJ)

Kamis, 09 Februari 2017

Debat BEM : Makin siang, makin sunyi


Dalam rangka mencari penerus ketua dan wakil ketua BEM FISIP, KPU FISIP Unlam mengadakan Debat Pasangan Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM FISIP Unlam.  Debat yg dilaksanakan pada Kamis (9/2) merupakan salah satu dari rangkaian acara yg diselenggarakan pada Pemilu BEM-KM FISIP 2017. Acara ini dihadiri oleh sebagian mahasiswa FISIP Unlam yang nantinya akan menjadi pemilih di pemilu pada tanggal 13 Februari nanti.
Acara dibuka oleh Wakil Dekan III FISIP Unlam dan dihadiri kurang lebih 80 mahasiswa umum dan perwakilan beberapa ormawa FISIP. Acara yg dimulai pukul 10 pagi di aula FISIP ini awalnya cukup ramai dengan sorakan timses masing-masing calon hingga waktu jeda tiba. Setelah itu, Banyak dari peserta umum yg meninggalkan acara sehingga menyebabkan kondisi debat dua  menjadi agak sepi.
Meski begitu, debat tetap berjalan lancar hingga acara selesai. Debat kali ini menghadirkan 2 pasangan calon yakni M. Ikhsan Nugraha (Prodi Ilmu Administrasi Publik) dan Rizky Altama (Prodi Ilmu Komunikasi) sebagai paslon nomor urut 1. Sedangkan paslon dengan nomor urut 2 disematkan oleh pasangan Windi Nahdi Pratama (Prodi Ilmu Pemerintahan) dan Jasmina Ramadhana (Prodi Ilmu Komunikasi).
"Dari segi menjawab pertanyaan-pertanyaan, paslon nomor urut 1 terlihat lebih unggul dibanding paslon nomor urut 2 yang masih terlihat bingung ketika menjawab beberapa pertanyaan," jelas Gita Farida Arianty, mahasiswi semester 2 Program Studi Ilmu Komunikasi.
Tujuan utama dari penyelenggaraan acara tersebut adalah untuk mengenalkan para paslon dengan visi-misi serta arah kinerja mereka setahun mendatang, seperti yang diungkapkan oleh Mellania ketika ditemui oleh tim INTR-O. "Semoga dengan terselenggaranya debat ini, mahasiswa-mahasiswi FISIP dan mengenal dan mengetahui kemampuan tiap-tiap pasangan calon sehingga mereka dapat menentukan pilihannya pada tanggal 13 Februari nanti," tutup Mellania selaku penanggung jawab Debat Calon BEM-KM FISIP.

Jual beli online


      Manusia sebagai mahkluk sosial memang tidak pernah terlepas dari orang lain dan saling membutuhkan terutama yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari manusia pasti akan terlibat dalam melakukan jual beli sehingga dengan jual beli membuktikan bahwa manusia dalam kehidupan saling membutuhkan dan di butuhkan, jual beli ada untuk memenuhi apa yang di butuhkan dan di diinginkan manusia

      Berbicara mengenai jual beli banyak bentuk jual beli yang dilakukan oleh manusia seperti jual beli barang dengan barang yang di sebut "Barter" dan jual beli barang dengan Nilai Materil atau uang, dari jual beli barter tidak ada penilaian dalam hal ini sistem barter pertukaran barang yang saling dibutuhkan oleh kedua belah pihak sehingga tidak berdasar pada besar atau kecil  maupun berat dan ringannya. Sedangkan jual beli dengan nilai materil barang sudah ditentukan dengan nilai uang.

       Tetapi Sesuai dengan perkembangan zaman dan tekhnologi manusia semakin berkembang dan maju, dengan perkembangan zaman dan tekhnologi manusia selalu menciptakan trobosan-trobosan baru, dalam hal jual beli kini ada yang di namakan dengan jual beli online yang tidak langsung bertatap muka manusia dapat melakukan jual beli dengan melalui media sosial dengan tinggal mengirim uang atas barang yang ingin di beli dan menerima barang,  dengan jual beli ini sangat spontan dan membantu manusia.

        Sehingga dengan perkembangan tekhnologi ini jual beli online semakin berkembang dan dimanfaatkan oleh orang Dewasa, Remaja bahkan Anak-anak pun bisa untuk melakukan transaksi jual beli karena mudah untuk melakukannya. Dapat diambil contoh banyak saat ini pengusaha muda yang sukses dengan adanya jual beli online karena dengan jual beli online cakupan nya luas tidak hanya pada suatu daerah tapi ke barebagai daerah dan karena dengan media sosial sangat cepat menyebar bahkan sampai ke berbagai belahan dunia.

Jalan Ditutup, Jamaah Bingung


ULM, Intr-o – Jalan disamping Masjid Kampus Baitul Hikmah UNLAM yang dijadikan tempat parkir bagi mahasiswa dan para  jama’ah masjid ditutup. selama beberapa hari daerah tersebut  telihat bebas dari kendaraan bermotor pasca penutupan jalan (9/2).

Penutupan jalan ini sebenarnya dilakukan oleh pihak Rektorat,” ungkap Bambang, salah satu anggota AMBH (Angkatan Muda Bitul Hikmah).  Bambang  mengatakan penutupan jalan berdampak positif bagi jamaah wanita. Mereka lebih mudah memasuki wilayah masjid dikarenakan tidak ada lagi kendaraan yang parkir jalan tersebut. Ia menambahkan untuk saat ini parkir bagi jamaah Masjid sementara dialihkan ke bahu jalan utama kampus, tetapi saat shalat jumat wilayah ini kembali dibuka untuk mengatasi membludaknya parkir kendaraan bermotor saat ibadah berlangsung.

“Memang benar jalan ini ditutup oleh pihak rektorat, karena jalan ini bukan tempat parkir tetapi lingkungan masjid,” ujar Abdul Hakim, satpam rektorat yang bertugas untuk menjaga lingkungan masjid pada saat shalat berlangsung.

Bambang sempat menyinggung bahwa jalan tersebut rencananya akan dibangun taman baca, tetapi sampai saat ini hal itu belum terealisasikan. “Dengar-dengar jalan ini rencananya akan di bangun taman baca, tetapi sampai saat ini belum ada kejelasan apakah rencana itu akan terwujud, kami pun sebagai pengurus bingung dengan hal ini,” sisip Bambang.

Bambang pun berharap adanya kejelasan jalan itu kedepannya sehingga tidak membingungkan mahasiswa dan juga jamaah masjid. “kedepannya biar lebih jelas jalan ini dibikin apa tempat parkir atau taman, biar tidak membingungkan mahasiswa dan jamaah” tutup mahasiswa jurusan  Administrasi Bisnis ini.

Selasa, 07 Februari 2017

PEKA SOSIAL DENGAN KOMUNITAS DIGITAL


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peka adalah mudah merasa; mudah terangsang; mudah bergerak; tidak lalai; mudah menerima atau meneruskan pengaruh. Dalam arti lain, peka yaitu suatu kesanggupan bereaksi dalam suatu keadaan yang dimana seseorang atau sekolompok orang akan peduli terhadap sesuatu yang membuatnya tersentuh. Sedangkan sosial menurut para ahli ialah sesuatu yang dicapai, dihasilkan, dan ditetapkan dalam interaksi, yang bisa dibangun dan terjadi dalam satu komunitas.

Berbicara tentang komunitas, banyak sekali kita temui sekarang ini komunitas-komunitas sosial yang menjalankan tugasnya dengan berbagai kegiatan. Contohnya saja bisa kita lihat di media sosial instagram maupun facebook. Tak jarang kita temui di sosial media tersebut banyak mengunggah foto kegiatan sosialnya. Contohnya komunitas Ketimbang Ngemis, dalam halaman akun resmi facebook ataupun instagram ketimbang ngemis tersebut, banyak orang-orang yang peduli dan tersentuh hatinya saat melihat suatu foto yang berisikan seorang kakek, nenek, ataupun anak kecil yang masih menempuh sekolah dasar semangat berdagang dibawah teriknya sinar matahari bahkan dinginnya udara malam. Mereka dengan senyuman dan semangat pantang menyerah tetap berusaha mencari penghasilan dengan cara yang halal, tanpa meminta-minta.

Perlu kita sadari, bahwa sekarang ini banyak anak muda yang sangat tidak peka terhadap seseorang seperti gambaran diatas. Ada banyak faktor yang membuat anak muda sekarang kurang memiliki kepekaan terhadap lingkungan disekitarnya. Salah satunya yaitu berkaitan dengan dunia digital. Dunia digital memang membuat manusia lupa untuk berinteraksi dengan sesama makhluk sekitar. Faktor lainnya adalah karena memang tidak diajarkan dari awal bagaimana bisa menjadi peka terhadap sesama dilingkungan sekitar.

Tidak semua yang berbau digital bisa membuat manusia lupa akan lingkungan sekitar manusia. Melalui dunia digital seperti menggunakan sosial media, manusia sekarang juga bisa melakukan hal-hal yang menunjukkan kepekaan terhadap apa yang dilihat maupun dirasakannya. Dengan sosial media, manusia juga bisa lebih peduli dan bisa berinteraksi dengan orang yang jauh. Artinya, sosial media juga memberikan dampak positif, tapi tergantung dengan penggunanya. Jika penggunanya menggunakan untuk hal-hal yang negatif, maka media sosial juga berdampak negatif.

Pengguna sosial media yang baik tentunya melakukan hal-hal yang bersifat positif juga. Misalnya saja seperti membangun komunitas tadi.Media sosial juga memberikan dampak positif bagi komunitas. Karena dengan adanya media sosial, komunitas tersebut jadi bisa lebih banyak dikenal. Semakin banyak yang mengenal komunitas dengan media sosial tentu semakin banyak pula yang tahu keberadaan suatu komunitas tersebut. Komunitas ketimbang ngemis awalnya dikenalkan melalui sosial media juga. Mereka menunjukkan rasa simpati dan empati yang sangat mendalam terhadap seorang sosok, maka mereka mengunggah foto sosok tersebut dengan harapan yang besar tentunya. Salah satu harapan mereka ialah banyak pengguna yang melihat dan merasa tersentuh terhadap foto itu. Para pengguna yang merasa tersentuh itu pun diharapkan mau memmbeli dagangan, atau pun medoakan sosok dalam foto tersebut.

Adanya komunitas sosial ini, tentunya berguna bagi kita untuk melihat dan mengetahui keadaan lingkungan sekitar kita. Adanya komunitas ini selain  berfungsin untuk memberikan informasi yang lebih cepat, juga telah dipercaya beberapa pihak untuk menyalurkan donasi-donasi. Selain mendapat donasi dari para donatur, komunitas ketimbang ngemis juga mengadakan kegiatan “Garage Sale” yang merupakan suatu kegiatan yang menjual pakaian dan barang bekas yang masih layak pakai dan semua keuntungannya disumbangkan kepada yang membutuhkan. Pakaian yang layak dijual kembali lagi tentunya juga didapat dari para pengguna sosial media yang mengikuti akun resmi komunitas itu. Jadi, komunitas tersebut bisa diibaratkan mereka juga mencari modal sendiri tanpa meminta-minta dipinggir jalan, karena menurut mereka kalau meminta sumbangan dipinggir jalan itu termasuk salah satu kegiatan mengemis, maka dari itu mereka sangat menghindarinya.

Komunitas seperti itu, sangat baik untuk menyadarkan masyarakat bahwa kita memang harus peka terhadap sesama dan pastinya peka terhadap apa yang berada disekitar kita. Kepekaan sendiri bisa didapat dari mengikuti akun-akun sosial media tersebut, atau lebih baik lagi bergabung dengan komunitas itu dan terjun langsung untuk melihat situasi dan kondisi bagaimana kehidupan seseorang yang bisa dibilang memprihatinkan. Walaupun juga kita tidak bisa membantu dengan donasi berupa uang, kita cukup bisa membantu dengan memberikan pakaian yang tidak terpakai dan masih layak pakai untuk diberikan pada komunitas itu. Ingatlah, bahwa bersedekah tidak selalu dengan uang.

(zakir)